GARDAPOSTSULTRA.COM-KENDARI- Perayaan Valentine setiap 14 Februari menjadi momen yang turut dirayakan anak muda di banyak negara, termasuk Indonesia. Di media sosial, momen ini sering dikaitkan dengan ungkapan cinta, pemberian hadiah, hingga agenda kencan yang dilakukan bersama pasangan.
Namun di balik tren tersebut, tidak sedikit orang yang bertanya tentang asal-usul Valentine termasuk bagaimana Agama Islam mengaturnya. Sebagian masyarakat menganggap bahwa Valentine berkaitan dengan hukuman mati, konflik agama, hingga praktik budaya yang berkembang dari masa ke masa.
Sebagai budaya Barat, Valentine juga sering diperdebatkan karena dinilai membawa unsur perayaan yang dekat dengan hubungan remaja secara berlebihan. Lalu, seperti apa sebenarnya sejarah Valentine dan bagaimana pandangan Islam melihat tradisi ini? Berikut penjelasannya, dirangkum Liputan6.com pada Sabtu (14/2).
Apa Itu Tradisi Valentine dan Mengapa Ini Banyak Dirayakan Anak Muda?
Seperti diketahui bersama, Valentine telah dikenal sebagai perayaan yang identik dengan ungkapan cinta. Biasanya, ini dilakukan dengan memberikan bunga, cokelat, surat, atau hadiah lain kepada orang yang dianggap spesial. Tradisi ini berkembang luas karena didukung budaya populer, industri hiburan, serta promosi dagang yang menjadikan tanggal 14 Februari sebagai momen konsumsi tahunan di banyak negara.
Di kalangan anak muda, Valentine sering dianggap sebagai kesempatan untuk mengekspresikan perasaan secara terbuka, terutama bagi mereka yang terbiasa menggunakan media sosial sebagai ruang komunikasi. Banyak yang memanfaatkan momen ini untuk menyampaikan perasaan, membangun kedekatan, atau sekadar mengikuti tren yang dianggap umum di lingkungan pertemanan.
Selain itu, Valentine juga sering masuk dalam budaya sekolah, kampus, dan komunitas anak muda melalui kegiatan tukar hadiah, acara kumpul bersama, atau konten digital yang dibuat khusus pada tanggal tersebut. Karena terus muncul setiap tahun dan mendapat sorotan media, tradisi ini akhirnya dianggap sebagai bagian dari gaya hidup yang melekat dalam generasi muda.
Versi Pertama Sejarah Valentine: Kisah Santo Valentine yang Disebut Dihukum Mati
Salah satu versi sejarah yang paling sering muncul menyebut Valentine berasal dari tokoh bernama Santo Valentine, seorang pendeta atau tokoh gereja pada masa Romawi. Dalam beberapa catatan populer, ia dikisahkan hidup pada masa pemerintahan Kaisar Claudius II, ketika pemerintah melarang pernikahan bagi prajurit karena dianggap melemahkan semangat perang.
Dalam cerita tersebut, Valentine disebut tetap menikahkan pasangan secara diam-diam karena menganggap pernikahan sebagai hak yang tidak seharusnya dilarang oleh negara. Tindakan ini akhirnya membuatnya ditangkap, dipenjara, lalu dijatuhi hukuman mati. Narasi ini kemudian menyebar sebagai bagian dari alasan mengapa nama Valentine dikenal sebagai simbol cinta.
Versi ini juga sering disertai kisah bahwa sebelum dieksekusi, Valentine menulis surat terakhir untuk seseorang yang dekat dengannya dan menutup surat itu dengan kalimat “from your Valentine”. Dari sinilah muncul kebiasaan mengirim pesan cinta pada tanggal 14 Februari, meskipun banyak bagian dari kisah tersebut tidak memiliki bukti sejarah yang seragam dalam satu sumber.
Selain kisah Santo Valentine, ada juga versi lain yang menyebut perayaan Valentine berakar dari tradisi Romawi kuno bernama Lupercalia. Tradisi ini dilakukan pada pertengahan Februari dan berkaitan dengan ritual masyarakat Romawi untuk menyambut musim semi, memohon kesuburan, serta menjaga keberlangsungan keturunan.
Dalam beberapa catatan budaya, Lupercalia disebut melibatkan kegiatan yang dianggap sebagai bentuk ritual masyarakat pada masa itu, termasuk prosesi tertentu yang kemudian ditafsirkan sebagai simbol kesuburan. Tradisi ini dilakukan jauh sebelum perayaan Valentine dikenal dalam bentuk modern, namun waktunya berdekatan dengan tanggal 14 Februari sehingga sering dianggap memiliki hubungan.
Seiring berkembangnya pengaruh agama Kristen di Romawi, sejumlah tradisi lama mulai diubah atau diarahkan agar sesuai dengan tradisi gereja. Dalam proses tersebut, perayaan Lupercalia perlahan menghilang, sementara nama Valentine mulai digunakan sebagai simbol perayaan yang lebih diterima dalam konteks agama baru pada masa itu, meskipun hubungan langsungnya masih diperdebatkan oleh sejarawan.
Valentine dan Narasi Gelap di Belakangnya
Kisah tentang Valentine yang dihukum mati sering muncul karena dianggap memberi latar dramatis yang mudah diingat dan mudah disebarkan. Cerita tentang seorang tokoh yang mempertahankan keyakinannya hingga mati sering menjadi bahan narasi yang kuat, apalagi jika dikaitkan dengan tema cinta, pengorbanan, dan kesetiaan.
Namun jika ditelusuri lebih jauh, nama “Valentine” bukan hanya merujuk pada satu tokoh, karena dalam sejarah gereja dikenal beberapa tokoh berbeda dengan nama serupa, termasuk seorang anak muda di zaman kerajaan dahulu yang menolak dijadikan prajurit. Alasan kuatnya, karena dirinya memiliki hati yang penuh dengan cinta kasih, sedangkan profesi prajurit sangat berlawanan dengan hal itu. Dirinya lantas ditangkap dan dihukum mati karena dianggap tidak patuh.
Inilah yang membuat cerita Valentine sering bercampur antara legenda, tradisi lisan, dan catatan yang tidak selalu sama, sehingga muncul banyak versi yang sulit dipastikan kebenaran detailnya. Meski begitu, narasi hukuman mati tetap bertahan karena sudah telanjur melekat dalam budaya populer, sehingga sering dipakai dalam film, artikel, hingga konten media sosial.
Pandangan Islam Tentang Hari Valentine yang Dianggap Bertentang
Dalam pandangan Islam, perayaan Valentine sering dikaitkan dengan persoalan Tasyabbuh, yaitu meniru tradisi kelompok lain yang tidak berasal dari ajaran Islam. Sebagian ulama menilai bahwa Valentine bukan bagian dari budaya Islam, sehingga tidak perlu dirayakan karena tidak memiliki dasar dalam syariat dan berpotensi mengarah pada kebiasaan yang tidak sejalan dengan nilai agama.
Selain itu, Valentine sering dipahami sebagai momen yang membuka ruang pergaulan bebas, hubungan tanpa ikatan pernikahan, dan ekspresi cinta yang tidak dibatasi aturan agama. Dalam Islam, hubungan antara laki-laki dan perempuan memiliki batas yang jelas, sehingga perayaan yang mendorong kebebasan hubungan dianggap dapat membawa dampak yang tidak baik bagi individu maupun lingkungan sosial.
Namun ada juga masyarakat Muslim yang melihat Valentine hanya sebagai momen untuk menunjukkan kasih sayang secara umum, misalnya kepada orang tua, pasangan sah, atau keluarga. Meski begitu, pandangan yang lebih dominan dalam kajian Islam tetap menekankan bahwa ekspresi cinta dalam Islam sudah memiliki jalannya sendiri, melalui akhlak, tanggung jawab, dan hubungan yang sah, tanpa perlu bergantung pada tradisi yang berasal dari luar.
Fakta Tentang Valentine Dalam Islam yang Perlu Diketahui
Penting dipahami bahwa Islam tidak melarang cinta, karena kasih sayang merupakan bagian dari fitrah manusia. Dalam ajaran Islam, cinta justru diarahkan agar menjadi sumber kebaikan, baik dalam hubungan keluarga, persahabatan, maupun pernikahan. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana cinta itu disampaikan dan apakah cara tersebut sesuai dengan aturan agama.
Jika Valentine dipahami sebagai ajang menunjukkan perhatian kepada pasangan yang sah dalam pernikahan, maka sebagian orang menganggapnya tidak menjadi masalah selama tidak diiringi praktik yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Namun jika perayaan ini berubah menjadi budaya pacaran bebas, aktivitas yang melampaui batas, atau gaya hidup yang menormalisasi hubungan tanpa ikatan, maka di sinilah muncul alasan mengapa banyak ulama mengingatkan agar umat Islam tidak ikut merayakannya. Ini juga sesuai dengan penjelasan di Al Quran Surah Al Isra Ayat 32 yang menekankan untuk tidak mendekati zinah.
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا
Wa lâ taqrabuz-zinâ innahû kâna fâḫisyah, wa sâ’a sabîlâ
“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”
Pada akhirnya, pembahasan Valentine dalam Islam sering kembali pada prinsip dasar bahwa umat Islam memiliki pedoman sendiri dalam menentukan tradisi dan perayaan. Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kehormatan, membangun hubungan yang jelas, serta menempatkan cinta sebagai bentuk tanggung jawab, bukan sekadar perayaan tahunan yang ditentukan oleh tren sosial.
Valentine sering dikaitkan dengan tradisi gereja karena nama Valentine berasal dari tokoh yang dikenal dalam sejarah Kristen, meskipun perkembangan perayaannya juga dipengaruhi budaya populer dan tradisi masyarakat RomawIslam mengajarkan ungkapan cinta melalui akhlak, perhatian kepada keluarga, menjaga hubungan yang halal, serta menempatkan kasih sayang sebagai bagian dari tanggung jawab, bukan sekadar simbol tahunan.
Sumber : Liputan 6.Com







